Jumat, 10 Maret 2017

Cara Mengatasi Stagnasi Dalam Bisnis

PengusahaMuslim.com – Kondisi perusahaan yang mengalami keadaan stagnasi dapat membuat sebuah bisnis menjadi tidak berkembang. Hal ini bisa terjadi, akibat kreativitas dan inovasi yang tidak berkembang mengakibatkan keadaan perusahaan mengalami stagnan.
Masalah stagnasi dalam bisnis adalah salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pengusaha. Kondisi seperti ini jika tidak segera diperbaiki, maka lama-kelamaan akan menganggu kesehatan bisnis anda. Bisnis Anda akan tertinggal jauh, kompetitor yang kian melesat, dan konsumen yang beralih pada kompetitor. Agar hal ini tidak terjadi, berikut tipsnya:
1. Evaluasi
Mereview atau mengevaluasi semua kegiatan usaha dalam satu bulan terakhir. Apakah dalam periode tersebut ada kesalahan kebijakan yang anda ambil, apakah ada bagian dalam bisnis yang tidak sehat, dan apakah semua proses sudah dijalankan sesuai standar operasional.
2. Identifikasi masalah
Dari hasil evaluasi yang sudah dilakukan, maka anda dapat menemukan pokok masalah yang terjadi pada bisnis anda. Identifikasikan critical point yang menjadi penyebab kemandekan, apakah dari faktor internal atau eksternal. Dengan mengidentifikasi masalah ini maka anda dapat menentukan langkah yang harus diambil untuk mengatasinya.
3. Review strategi pemasaran
Lihat kembali strategi pemasaran Anda, apakah masih relevan dengan kondisi saat ini atau harus dirombak. Perkembangan bisnis, terlebih pemasaran produk juga dipengaruhi oleh ketepatan strategi pemasaran yang Anda buat. Jika diperlukan Anda bisa membuat survei mengenai perubahan perilaku konsumen agar anda bisa membuat strategi yang tepat sasaran.
4. Kaji ulang system
Anda harus mengkaji semua sistem yang diterapkan dalam bisnis anda. Apakah sistem yang diterapkan masih applicable untuk bisnis anda? Apakah sistem tersebut mendukung adanya inovasi? Bagaimana efektivitas dan efisiensi sistem tersebut? Dengan terus menggali pertanyaan-pertenyaan demikian, maka anda dapat menemukan jawaban-jawaban yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya kemandekan.
5. Merekrut orang yang tepat
Jika kondisi bisnis anda sudah parah atau akut di mana tidak ada perkembangan sama sekali dan justru mengalami kemunduran, maka jika tidak segera mendapatkan solusi akan mengancam kelangsungan bisnis anda. Merekrut orang yang tepat dalam artian memiliki pengalaman dalam meng-handle bisnis yang stagnan dan memiliki visi serta ide yang baru dan inovatif akan sangat membantu meningkatkan kinerja bisnis anda.
6. Tindakan pencegahan
Melakukan tindakan pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati. Berdasarkan hasil evaluasi yang anda lakukan dan critical point yang ditemukan, maka anda dapat menentukan tindakan pencegahan untuk masing-masing poin memiliki potensi terjadi masalah.
Menghadapi keadaan ini Anda perlu berpikir untuk menemukan terobosan baru agar bisnis Anda tidak tertinggal. Semoga bermanfaat.
[Sumber: Finance Detik]

Barokah di Pagi Hari

Banyak peluang besar disia-siakan kalau kita suka tidur pagi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa agar Allah memberkahi umatnya di pagi hari. Karena itu, kita perlu tahu rahasia untuk mendapatkan berkah waktu pagi.
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Di Tanah Arab, kami sering memperhatikan jarang toko yang buka pada pagi hari, sekitar jam 7 pagi. Karena kebanyakan toko di sana buka sampai larut malam. Padahal sebagian warga ada yang mencari kebutuhan di pagi hari. Semisal sarapan, sayuran dan lauk lainnya. Yang perlu diingat, berdagang di pagi hari sungguh penuh barokah (berkah) sebagaimana dibuktikan dalam kisah sahabat mulia berikut.
Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” Apabila mengirim peleton pasukan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya di waktu pagi. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya pada pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan dia adalah Shokhr bin Wada’ah.—HR Abu Daud No. 2606, Tirmidzi No. 1212, shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani
Empat Pelajaran Penting
Beberapa pelajaran penting bisa kita petik dari sepenggal kisah Shokr.
Pertama, perhatian pada ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menuai berkah.
Lihatlah bagaimana Shokr Al Ghomidi Radhiyallahu ‘anhu, beliau bisa meraup berkah hanya karena mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak melihat dulu, apakah sabda beliau memang benar sudah terbukti, mujarab, atau menunggu penelitian ahli akan hal itu. Sahabat mulia tersebut hanya bersikap ‘sami’na wa atho’na’, dengar dan langsung taat. Lain halnya dengan kita, ketika mendengar hadits Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam beribu pertanyaan siap dilontarkan. Mengesankan sikap tidak percaya. Ah, masak iya? Apa sudah sesuai penelitian dokter?
Senasib dengan sikap semacam ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seekor lalat jatuh di tempat minum salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah seluruh bagian lalat tersebut. Lalu buanglah lalat tadi. Karena di salah satu sayapnya terdapat penawar dan sayap lainnya adalah racun.”—HR Bukhari No. 5872
Banyak sikap skeptis yang dilontarkan, tujuannya untuk mengingkari hadist yang kurang logis. Orang yang benar beriman pada Allah dan Rasul-Nya, tentu merespon baik dan mentaati. Ditambah lagi penelitian terkini dari pakar menunjukkan benarnya sabda beliau ini. Dan Rasul tentu saja sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”—QS An Najm: 3-4
Kedua, waktu pagi adalah waktu penuh barokah.
Sampai-sampai para ulama menghabiskan waktu pagi tersebut untuk berdzikir dan beramal sholeh. Jika tidak berdzikir, maka aktivitas di hari itu bisa jadi kurang bersemangat. Sebagaimana hal ini dibuktikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.—Lihat Al Wabilush Shoyyib karya Ibnul Qayyim
Ketiga, barokah waktu pagi bisa dimanfaatkan dengan berpagi-pagi mencari rezeki.
Anda bisa perhatikan apa yang dibuktikan oleh Shokr bin Wada’ah. Beliau jadi kaya raya karena benar-benar memanfaatkan waktu tersebut. Anda kurang yakin? Buktikan dulu dengan dasar mengamalkan hadist ini. Ingat, bukan sebatas untuk coba-coba.
Keempat, hadits ini juga menunjukkan mustajabnya doa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadilah waktu pagi adalah waktu penuh berkah.
Dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh At Tirmidzi (3: 305) disebutkan bahwa karena perhatian Shokr Al Ghomidi pada ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memanfaatkan waktu pagi dan mustajabnya doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang memanfaatkan waktu pagi, akhirnya Shokr—seorang pedagang—menjadi kaya raya.
Tips
Cara untuk meraup berkah di pagi hari adalah tidak begadang hingga larut malam. Jika kita memiliki toko atau warung, sebaiknya tutup lebih awal, sehingga kita bisa benar-benar memanfaatkan waktu pagi. Apalagi jika barang yang ditawarkan oleh toko atau warung tersebut dibutuhkan oleh banyak orang di pagi hari.
Selamat mencoba, dan dapatkan bonusnya.
Semoga Allah senantiasa memberkahi setiap usaha kita. Wallahu waliyyut taufiq.
Pull Quote:
  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
  2. Sahabat Sokhr yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya.

Khutbah Jum'at Masjid Nabawi (Terjemahan) Syekh Abdul Bari Bin Awadh At-Tsubaiti: Perbaikan Diri

Perbaikan Diri 

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 10 Rabiul Awal 1438 H
Khotib : Syekh Abdul Bari Bin Awadh At-Tsubaiti

Penerjemah : Usman Hatim


Khotbah Pertama

Perubahan merupakan ciri khas kehidupan. Tidak ada yang permanen dalam hidup ini; ada sehat dan ada sakit; pasang dan surut, dihormati dan dihinakan, lapar dan kenyang, miskin dan kaya, menikah dan cerai, aman dan takut, sedih dan senang, termasuk fluktuatif ekonomi.

     Perubahan semacam ini telah menjadi ketetapan Allah yang tidak terelakkan. Hal itu dapat kita baca dalam peristiwa sejarah sepanjang masa. Manakala kehidupan mengalami perubahan secara negatif, biasanya orang-orang yang berjiwa kerdil merasa sedih, tersakiti dan pesimis, lalu  mereka kendur semangat dan bermalas-malas menjalani kehidupan dengan penuh gairah.

     Termasuk prinsip dasar akidah seorang muslim adalah beriman kepada ketetapan takdir, manisnya dan pahitnya, serta meyakini bahwa segala pengaturan urusan kehidupan adalah milik Allah, dan bahwa perubahan hidup merupakan hak prerogatif Allah, bukan kapasitas manusia.
     Beriman terhadap ketentuan takdir merupakan motivator paling kuat untuk mengatasi bencana dan melanjutkan kerja dengan penuh semangat dan percaya diri dalam mencari rezeki, disamping mempertahankan hidup untuk memberi agar tidak mandek.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

" وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ  “ رواه الترمذي بإسناد صَحِيح

“Ketahuilah sekiranya seluruh umat manisia sepakat untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena suatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan sekiranya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberikan madharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena sesuatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Pena takdir telah diangkat dan lembaran ketetapan telah mengering”. HR Tirmizi dengan isnad shahih.

     Pesan ini merupakan penguatan jiwa seseorang untuk bergantung kepada Allah semata dalam segala perikehidupan dan urusan akhiratnya. Maka hendaklah ia hanya memohon kepada Allah, tidak mengharapkan kecuali anugerahNya. Maka sebagaimana seseorang secara lisan hanya memohon kepada Allah, demikian pula hatinya hendaklah tidak bergantung kecuali kepada Allah.

     Dengan demikian tercapailah kejayaan dan kemuliaan. Sementara orang yang bergantung kepada sesama makhluk hanya akan tertimpa kehinaan dan kemerosotan.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

" مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ، فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ، أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ، بِالْغِنَى، إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ " رواه أبو داود والترمذي

“Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan teratasi kemiskinannya itu. Dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah mempercepatkan kecukupan baginya; mungkin dengan kematian segera atau kekayaan segera”. HR Abu Dawud dan Tirmizi.

     Hendaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Tuhannya dengan meyakini bahwa ketentuan dan ketatapan takdir Allah tentu didasarkan pada kebijaksanaan Allah yang mencerminkan kesempurnaan keadilan dan kasih sayang-Nya; dimana Allah menjadikan miskin bagi siapa yang dikehandaki-Nya dan menjadikan kaya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Memuliakan orang yang dikehendakiNya dan menghinakan orang yang dikehendakiNya pula.

     Orang mukmin selalu hidup dalam kepuasan hati apapun kondisinya. Jika seseorang telah merasa puas terhadap dirinya dan ridha kepada Tuhannya, maka tenanglah hidupnya hari ini yang sedang ia jalani. Jika keyakinannya kepada Allah telah merasuk, maka tenteramlah hatinya untuk hari esok dan masa depannya.

     Iman (percaya) kepada ketentuan dan ketetapan takdir Allah bukan berarti seseorang menyerah kepada realita yang ada, lalu cenderung mengikuti rutinitas kehidupan dengan kepasrahan hati karena frustrasi dan putus asa. Tetapi iman kepada ketentuan dan ketetapan takdir justru mendorong seseorang untuk menolak takdir dengan takdir pula, yaitu mengikuti prosedur yang benar dengan kesabaran dan ketabahan serta berusaha merubah kondisi menjadi lebih baik.

     Betapa banyak orang miskin yang kondisinya Allah balikkan menjadi kaya. Betapa banyak orang yang dirundung kesedihan lalu Allah jadikan keadaannya menjadi senang. Betapa banyak orang yang nestapa, lalu Allah rubah menjadi ceria. Betapa banyak orang yang sakit yang kemudian Allah selimuti dengan pakaian kesehatan lahir batin. Betapa banyak orang yang terzalimi, akhirnya bisa menyaksikan di dunia ini pembalasan Allah terhadap orang yang menzaliminya.

     Manusia sering merasa panik ketika menghadapi perubahan kondisi secara mendadak, kecuali orang-orang yang menjalankan shalat dengan konsisten saja (yang tidak panik). Firman Allah :

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ، إِلا الْمُصَلِّينَ [ المعارج / 19 -22 )

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir; Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. Qs Alma’arij : 19-22

     Terkadang manusia lupa akan tugasnya merubah kondisi menjadi lebih baik, lantaran dirinya sibuk menganalisis persoalannya, mengkaji apa yang ada di balik peristiwa dan hidup dalam fatamorgana hayalan. Maka hilanglah kesempatannya dan sia-sialah waktunya lantaran memperbincangkan hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya. Padahal Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan :

"احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ " رواه مسلم

“Fokuskan perhatianmu terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu”. HR Muslim

     Adapun menggerutu dan selalu mengeluh dan menilai zaman sudah rusak, lalu membangkitkan semangat negatif di tengah masyarakat, sungguh demikian itu mematikan aspirasi, mengendurkan kebulatan tekad dan menghentikan laju pembangunan.

     Orang mukmin dengan pertimbangan akalnya yang jernih akan membiarkan perubahan berjalan; Betapa banyak bencana yang di dalamnya tersimpan anugerah. Betapa banyak cobaan yang kemudian memunculkan kenikmatan.

     Orang mukmin menyadari bahwa adanya perubahan dalam hidup ini merupakan nikmat agung yang dapat membukakan pintu optimisme dan jendela harapan. Dalam perubahan ada kesempatan meraih kesuksesan, peningkatan dan kemajuan.

     Ketika bencana dan kesulitan telah memuncak, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan kabar gembira yang menggelorakan harapan dalam jiwa dengan ungkapan yang meyakinkan akan janji Allah dan pertolongan-Nya.

فعَنْ عَدِيّ بنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا أنا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ، فَشَكَا إِلَيْهِ الْفَاقَةَ، ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ، فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ، فَقَالَ: يَا عَدِيُّ! هَلْ رَأَيْتَ الْحِيرَةَ؟ قُلْتُ: لَمْ أَرَهَـا، وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا. قَالَ: فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلاَّ اللهَ. قُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِي: فَأَيْنَ دُعَّارُ طَيِّئٍ الَّذِينَ قَدْ سَعَّرُوا الْبِلاَدَ؟! وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتُفْتَحَنَّ كُنُوزُ كِسْرَى. قُلْتُ: كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ؟! قَالَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ. وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الرَّجُلَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، يَطْلُبُ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ، فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهُ مِنْهُ " رواه البخاري

”Ketika aku bersama Nabi -shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu dia mengadu kepadanya tentang kemiskinannya, kemudian datang lagi yang lain, dan mengadu kepada beliau tentang para pembegal jalanan. Selanjutnya beliau berkata, ‘Wahai Adi, Apakah engkau melihat (kota) al-Hirah?’ ‘Aku belum melihatnya, sementara aku telah mendapatkan berita tentang itu’ jawabku. Beliau bersabda, ‘Jika umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah tanpa merasa takut kepada seorang pun kecuali kepada Allah,’ aku pun bertanya di dalam hati, ‘kemanakah para pembegal dari Thayyi’ yang telah membuat kekacauan di berbagai negeri itu?!’. (Sabda Rasul), ‘Dan seandainya umurmu panjang, niscaya akan dibukakan harta simpanan Kisra.’ Aku bertanya, ‘Kisra bin Hurmuz?!’ Beliau menjawab, ‘Kisra bin Hurmuz, dan seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh kedua telapak tangannya, dia mencari orang yang akan menerimanya, lalu dia sama sekali tidak mendapati seorang pun yang mau menerimanya”. HR Bukhari.

Seorang muslim diperintahkan mengadakan perubahan pada dirinya, perilakunya dan kehidupannya menjadi lebih baik; yaitu dengan memilih jalan petunjuk kebaikan, mencegah perubahan-perubahan negatif sebagai wujud peneladanan terhadap petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.

     Beliau telah melakukan berbagai perubahan dalam kehidupan  pribadinya dan kehidupan sahabat-sahabatnya, pada tataran ucapan dan perbuatan.

" سَمَّى حَرْبًا سَلْمًا، وَشَعْبَ الضَّلَالَةِ، سَمَّاهُ شَعْبَ الْهُدَى، وَسَمَّى بَنِي مُغْوِيَةَ، بَنِي رِشْدَةَ " رواه أبوداود بإسناد صحيح

“Beliau merubah istilah “harb” (perang) menjadi “salm” (damai), “Syi’bah Dhalalah” (perkampungan kesesatan) menjadi “Syi’bah alhuda” (perkampungan petunjuk). Beliau menyebut suku “Bani Mughwiyah” (Anak keturunan penyesat) menjadi “Bani Risydah” (Anak keturunan terbimbing). HR. Abu Dawud dengan isnad shahih.

     Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- anti tempat-tempat yang namanya mengerikan. Maka ketika datang ke Madinah yang kala itu terkenal dengan nama “Yatsrib” (kehancuran), beliau pun merubahnya menjadi “Thibah” (bersih dan harum) sekaligus mengganti seluruh paradigma yang keliru.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bertanya :

" مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا قَالَ فَمَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ " رواه مسلم

“Menurut kalian, siapakah sebenarnya orang yang mandul di antara kalian itu? ( Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak mempunyai anak. Rasulullah bersabda: Bukan itu yg dimaksud dengan mandul. Tetapi ia adalah orang yg tidak dapat memberikan (nilai kebaikan) apapun kepada anaknya.. Rasulullah bertanya lagi: Siapakah orang yang kalian anggap paling kuat? (Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak terkalahkan oleh orang lain. Rasulullah menjelaskan: Bukan itu yang dimaksud, tetapi orang paling kuat adalah orang yg dapat menguasai dirinya ketika sedang marah”. HR Muslim

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

" أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ" رواه مسلم

“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang dirham maupun kekayaan.” Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan : Orang yang bangkrut diantara umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D dan memukul si E. Maka masing-masing mereka akan diberi pahala dari amal kebaikan orang tersebut. Jika telah habis pahala kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka”.HR Muslim.

     Terkadang seorang muslim tertawan oleh kepuasan negatif yang mendominasi alam pikirannya, sehingga merasa tidak berdaya lagi untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Itu memang kendala sangat rumit, yang menyeret seseorang mundur total ke belakang. Maka dia harus merubah haluan ke arah positif yang demikian mantap dan tegap dalam hati dan pikiran bahwa hidup itu perlu berusaha dan bahwa setiap problem pastilah ada solusinya, betapapun besarnya problem itu.

     Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang hebat mampu menciptakan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka merubah sikap persengketaan dan permusuhan menjadi kasih sayang, persaudaraan dan persahabatan. Mereka mampu membalikkan teman-teman jahat menjadi sahabat setia. Mereka berhasil mengatasi tradisi-tradisi buruk adat istiadat yang bertentangan dengan agama dan tidak sejalan dengan orbitnya.

     Langkah-langkah perubahan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah merubah diri sendiri. Di sinilah dimulainya proses perubahan kondisi umat yang sedang menghadapi segala bentuk keterbelakangan, kemiskinan dan kemunduran. Selanjutnya mempersenjatai diri mereka dengan ilmu yang merupakan pilar utama bagi tegaknya peradaban dan kemajuan di setiap zaman. Firman Allah :

" إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ " [ الرعد/11]

“Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi sesuatu kaum sehingga mereka merubah kondisi yang ada pada diri mereka”.Qs Ar-Ra’d : 11

     Termasuk konsekuensi perubahan ke arah yang lebih baik adalah berhati tulus. Firman Allah :

وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ [ فصلت/23]

“Dan yang demikian itu adalah prasangka hatimu yang telah kamu sangkakan kepada Tuhanmu, itulah yang membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.Qs Fushilat: 23

Disebutkan dalam hadis :

" أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي " رواه البخاري ومسلم

“Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya ketika ia mengingat Aku”. HR Bukhari dan Muslim.





==== 00 ====



Khotbah Kedua

     Adalah merupakan aksioma bahwa Islam melarang segala perubahan ciptaan manusia yang justru merusak kehidupannya, memperlemah agamanya dan membinasakan ibadah ritualnya. Termasuk menyerang harta benda dan nyawa, mengacaukan keamanan, memakan harta orang lain secara batil, suap-menyuap, korupsi, menyebar-luaskan kekejian dan membangkitkan kekacauan.

     Seorang muslim secara apriori pastilah menolak perubahan yang mengarah pada kejahatan. Dia tidak ingin berkontribusi dengan perbuatan ataupun pernyataan dalam menciptakan perubahan yang justru berpotensi terhadap lenyapnya nikmat. Firman Allah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ [ إبراهيم/28]

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?”. Qs Ibrahim : 28

     Bagi kita ada teladan yang baik pada diri Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau selalu mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- untuk memohon pertolonganNya dalam mengatasi setiap perubahan yang mendatangkan keburukan dan bencana. Beliau memohon perlindungan-Nya dari kemiskinan, kehinaan, perasaan minder, ketidak-berdayaan, kemalasan, terlilit hutang, penguasaan oleh kaum penindas dan penyakit yang ganas.

     Beliau selalu memohon kepada Allah kesehatan lahir dan batin di dunia dan akhirat, serta memohonkan agar kaum muslimin dijauhkan dan diselamatkan dari malapetaka dan bencana.

     Kita tidak dapat lepas dari pertolongan Allah dalam memantapkan hati kita sekejap matapun. Jika bukan karena Allah, maka bergeserlah sudah atap dan pijakan dasar keimanan kita dari posisinya. Firman Allah :

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ [ إبراهيم/ 27]

“Allah memantapkan (keimanan) orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat”. Qs Ibrahim: 27


=== Doa Penutup ===

https://www.firanda.com